Wong Jawa Kelangan Jawane

“Wong Jawa Kelangan Jawane”
Penggalan di atas adalah ramalan dari Jaya baya yang mungkin benar adanya. (walupun sebenarnya suatu kebenaran adalah relative) namun secara empiris ramalan tersebut memang terjadi di Tanah Jawa. Sebagai contoh misalnya, hilangnya rasa unggah-ungguh antara anak kepada orang tuanya, dapat dengan mudah kita temui. Padahal kalau kita mengetahui makna dari unggah-ungguh tersebut tentu akan banyak manfaat yang akan kita peroleh. Dalam penggunaan bahasa, fenomena yang terjadi adalah banyak dari kita yang tidak mengetahui bagaimana berbicara dengan menggunakan krama inggil kepada orang yang kita anggap lebih tua. Rasa ngajeni tersebut telah terkikis oleh budaya pop yang merajalela dengan berbagai media. Seiring perkembangan zaman, teknologi dan informasi telah menggeser budaya yang adi luhung tersebut tanpa kita sadari. Akibatnya orientasi manusia jawa tentang hidup dan pandangan hidup pun ikut luntur. Terbukti dengan mulai pudarnya rasa “paseduluran” yang sangat dijunjung tinggi, bergeser dengan aliran materialisme maupun liberalisme yang menurut saya tidak sesuai dengan jati diri manusia jawa.
Dan anehnya, ketika saya browse di internet untuk mencari artikel Raden Ngabei Ronggowarsito yaitu Serat Kalatidha, maka tampilan yang pertama muncul adalah situs dengan bahasa belanda dan sebuah foto aksara jawa di Belanda sebagai halaman depannya. Kenapa bisa terjadi demikian..? Padahal kita ketahui bahwa akar budaya tersebut digali dari budaya leluhur, budaya orang jawa.

Tinjauan Ontologi :
Kalau kita lihat secara mendalam, tentang hilangnya jawa pada manusia jawa seperti yang diramalkan Jaya baya dalam Jangka Jayabaya, tentu tidak masuk akal kalau kita tinjau secara logika karena itu adalah sebuah ramalan yang bisa dipertanyakan kebenarannya. Tetapi perlu diningat bahwa kebenaran adalah suatu hal yang relative, bisa saya mengatakan benar, tapi tentu beda dengan pendapat anda. Terkait dengan hal itu, maka “kelangan” (hilangnya) budaya jawa pada masyarakat jawa tentu sangat mengkhawatirkan. Jatidiri sebagai manusia jawa yang kita anggap sebagai budaya yang adi luhung sangat ironi sekali kalau kita melupakan jati diri kita sendiri. Apakah kita layak disebut sebagai keturunan jawa kalau kita kelangan jawa kita?

Tinjauan Epistimologi
Fenomena wong jawa kelangan jawane merupakan anggapan yang kalau kita hadapkan pada kenyataan adalah suatu asumsi yang mau tidak mau semua itu belum, sedang, atau telah terjadi.

Belum, dengan alasan kita masih melihat beberapa orang ataupun organisasi yang pelestarikan budaya jawa dalam kehidupan sehari-hari. Pelestarian situs, maupun adat yang masih dapat kita lihat walau hanya di beberapa daerah.

Sedang, karena menurut saya, itu hanyalah ramalan yang boleh diyakini dan boleh untuk tidak kita yakini. Masih ada harapan untuk kita bersama membudayakan budaya jawa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Perlunya pelestarian terhadap generasi muda secara umum, dan pada anak cucu kita pada khususnya adalah hal yang dapat dilakukan.

Telah, karena melihat kenyataan yang ada, minat generasi muda yang berusaha untuk melestarikan tersebut sangat jarang kita temui. Budaya jawa yang ada sekarang ini telah bergeser dari pakem yang sejatinya. Atau dengan kata lain telah terkontaminasi dengan budaya asing yang menyerang dengan berbagai cara.

Tinjauan Aksiologi

Amenangi jaman édanewuh-aya ing pambudimèlu édan nora tahanyèn tan milu anglakoniboya keduman mélikkaliren wekasanipundilalah karsa Alahbegja-begjané kang laliluwih begja kang éling lawan waspada Penggalan di atas adalah bait dalam Serat Kalatidha yang disusun oleh Raden Ngabei Ranggawarsito yang mengingatkan kita agar selalu ingat dan waspada. Tuntutan zaman memang menjadi momok yang ditakuti terhadap eksistensi Terjadinya fenomena yang dapat melunturkan akar budaya bangsa, tentu menjadi titik tolak pemikiran kita bersama. Akankah kebudayaan tersebut akan hilang ditelan zaman, dan menjadi suatu sejarah.

kita “pernah”
mempunyai basa krama inggil,
mempunyai unggah-ungguh,
mempunyai sedulur
kita
pernah

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.