Sejarah Perkembangan Pengetahuan Dari Zaman Purba Sampai Zaman Kontemporer

E. Zaman Modern (abad 17 – 19 M)

Pada masa ini muncul pemikir – pemikir yang mendorong cara pendekatan yang sama sekali baru terhadap masalah – masalah manusia, seperti rasionalisme, dan empirisme. Berkembang beberapa paham yang menguatkan
kedudukan humanisme sebagai dasar dalam perkembangan hidup manusia dan
pengetahuan. Paham rasionalisme me-nyatakan bahwa akal merupakan alat
terpenting untuk memperoleh dan menguji penge-tahuan. Kedaulatan rasio diakui
sepenuhnya dengan menyisihkan pengetahuan indra. Menurut Rene Descartes (paham
rasionalisme dan skeptisme), pengetahuan yang benar harus berangkat dari
kepastian. Untuk memastikan kebenaran sesuatu, segala sesuatu harus diragukan
terlebih dahulu. Keragu-raguan membuat manusia bertanya/mencari ja-waban untuk
memperoleh kebenaran yang pasti (manusia harus berpikir rasional untuk mencapai
kebenaran).

Pada paham empirisme, segala sesuatu yang
ada dalam pikiran didahului oleh pengalaman indrawi. Pengetahuan dikembangkan dari pengalaman indra
secara konkrit dan bukan dari rasio.  Menurut
John Locke (empirisme dan naturalisme), pikiran awal-nya kosong. Isi pikiran (ide)
berasal dari pengalaman indrawi (lahiriah dan batiniah) ter-hadap substansi
(benda) di alam. David Hume (skeptisme dan empirisme) mengatakan ide atau
konsep didalam pikiran berasal dari persepsi (kesan terhadap pengalaman indra-wi)
dan gagasan (konsep makna dari kesan) terhadap suatu substansi, bukan dari substansinya.
Sementara menurut Francis Bacon, pengetahuan merupakan kekuatan un-tuk
menguasai alam.  Pengetahuan diperoleh
dengan metode induksi melalui eksperi-men dan observasi terhadap suatu fenomena
yang ingin dikaji.  Paham lainnya adalah
idealisme yang dianut Barkeley: ada disebabkan oleh adanya persepsi; dan paham
idealisme – kritisisme yang dikembangkan Imanuel Kant. Menurut Kant, hakikat
fisik adalah jiwa (spirit) dan pengetahuan adalah hasil pemikiran yang dihubungkan
dengan pengalaman indrawi. Paham ini menggabungkan konsep rasionalisme dengan
empiris-me.  Paham positive-empiris
(Aguste Comte) menyatakan bahwa realita berjalan sesuai dengan hukum alam
sehingga pernyataan pengetahuan harus bisa diamati, diulang, diu-kur, diuji dan
diramalkan. Sementara paham pragmatisme William James menyatakan kebenaran
suatu pernyataan diukur dari kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat
fungsional (bermanfaat) dalam kehidupan praktis.  Pernyataan dianggap benar jika kon-sekuensi
dari pernyataan tersebut memiliki kegunaan praktis bagi manusia.

Belum ada komentar

Leave a reply